SISTEM INFORMASI “Dengan Data Mengungkap Fakta”

BingungDalam pengambilan keputusan data merupakan komponen yang paling penting, sering sekali keputusan diambil tidak berdasarkan data, tetapi berdasarkan pengamatan atau kemungkinan sebagian berdasarkan “Terawangan” dari mereka yang mengambil keputusan. Hal tersebut tidak lah mengherankan sebab tidak atau kurangnya data yang tersedia dalam pengambilan keputusan, jikalapun ada data tersebut masih diragukan, karena hanya merupakan data facility base, ini dapat kita lihat data yang berada di puskesmas yang berupa data SP2TP (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Tingkat Puskesmas) bagi puskesmas yang belum menggunakan komputerisasi. Data yang ada hanya dicatat pada saat masyarakat datang ke puskesmas dan tidak mencerminkan data keseluruhan masyarakat padahal yang diperlukan data kesehatan bukan data kesakitan karena sebagian besar masyarakat datang ke puskesmas hanya untuk berobat, pun demikian dengan data kematian belum ada yang jelas karena penyebab kematian di masyarakat bila mereka meninggal di rumah tidak di tempat pelayanan kesehatan penyebab kematian mereka artikan sendiri padahal setiap kematian pasti ada faktor penyebab (selain memang sudah takdir).

Desentralisasi berpengaruh cukup signifikan terhadap peran puskesmas khususnya dalam hal pengelolaan anggaran, pada saat sentralisasi kucuran dana dari pusat langsung turun ke puskesmas walaupun sebagian ada yang melewati Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tapi setelah desentralisasi anggaran tersebut “nyangkut/disaring” dulu di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, puskesmas hanya bisa bengeknya saja. Hal ini berpengaruh kepada kinerja sebagian puskesmas besar kegiatan puskesmas merupakan luar gedung yang membutuhkan operasional luar gedung yang cukup besar apalgi untuk daerah yang tergolong sulit dan sangat terpencil khususnya mereka yang sering melakukan kunjungan rumah untuk memantau perkembangan kesehatan masyarakat, dimana salah satu kegiatan mereka mengumpulkan data. Tetapi tidak selamanya desentralisasi itu tidak baik karena hanya dibutuhkan komitmen dari mereka yang mengambil keputusan di daerah apakah mereka sadar bahwa puskesmas merupakan pelaksana pelayanan kesehatan di tingkat paling bawah, merupakan ujung tombak paling akhir yang merupakan kunci suksesnya segala pelayanan kesehatan.

Sedikit penulis sajikan materi yang di dapat pada saat pelatihan SIKNAS Online di Bandung yang di paparkan oleh Kapusdatin Bapak Bambang Hartono, Kebijakan Depkes dalam hal pengembangan jaringan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) Online berdasarkan KEPMENKES NO. 837 Tahun 2007 dalam kebijakan ini melakukan melakukan pendekatan baru dalam hal pengembangan SIKNAS yang selama ini dianggap belum maksimal, dimana sebelum kebijakan ini dikeluarkan didahului dengan dua KEPMENKES yaitu KEPMENKES NO. 511 Tahun 2002 tentang Kebijakan dan Strategi SIKNAS dan KEPMENKES NO. 932 Tahun 2002 tentang Juklak Pengembangan SIKDA di Kabupaten/Kota. Ada enam strategi yang dirumuskan dalam pengembangan SIKNAS di era otonomi yaitu :

1. Integrasi dan simplifikasi pencatatan dan pelaporan yang ada.

2. Penetapan dan pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan baru.

3. Fasilitasi pengembangan sistem-sistem informasi kesesehatan daerah.

4. Pengembangan teknologi dan sumberdaya.

5. Pengembangan pelayanan data dan informasi untuk manajemen.

6. Pengembangan pelayanan data dan informasi utk masyarakat.

Bila dilihat dari strategi utama Depkes maka Sistem informasi merupakan strategi utama ke tiga dan merupakan sasaran yang ke empat belas yaitu berfungsinya system informasi kesehatan yang evidence di seluruh Indonesia, yang uraiannya pada akhir tahun 2009 telah tersedia dan dimanfaatkan data dan informasi kesehatan yang akurat, tepat dan cepat dengan mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam pengambilan keputusan/kebijakan bidang kesehatan di kabupaten/kota, Propinsi, dan departemen kesehatan dengan indikator telah terbentuk jaringan komputer online dari seluruh Dinkes kabupaten/kota ke Dinkes Propinsi dan depkes yg dimanfaatkan untuk komunikasi data dan informasi secara terintegrasi dalam kerangkasistem informasi keseshatan nasional (SIKNAS) dimana indikator tersebut dicapai pada tahun 2010 dengan telah terselenggara jaringan komunikasi data online antara seluruh puskesmas, rumah sakit, dan sarana kesehatan lain, baik milik pemerintah maupun swasta, Dinkes Kabupaten/Kota, Dinkes Propinsi, dan UPT pusat dengan departemen kesehatan.

Sungguh Strategi dan Kebijakan yang luarrrrrrrr biasaaa yang kemungkinan bisa menjadi luarrrrrr binasa… hanya dalam waktu tiga tahun indikator tersebut dapat dicapai. Bila kita lihat apa yang penulis cetak tebal dan beri garis miring merupakan hal yang sangat sulit untuk di wujudkan bukan berarti tidak mungkin tetapi dalam waktu tiga tahun…. Mungkin kita berharap mukjizat saja, saat ini saja belum semua yang mampu terpasang padahal target tahun ini adalah telah terselenggara jaringan komunikasi data online terintegrasi antara 90% Dinkes Kabupaten/Kota, 100% Dinkes Propinsi, 100% rumah sakit pusat, dan 100 % UPT pusat dengan departemen kesehatan. Saat ini SIKNAS Online hanya berfungsi untuk pengisian data SPM dan verifikasi JAMKESMAS selebihnya masih ada permintaan data yang neggunakan hardcopy. Lagi pula Depkes hanya menyediakan fasiltas hanya sampai tingkat Kabupaten/Kota, padahal kalau kita berbicara penyediaan data harusnya sampai ke puskesmas karna di Dinas Kesehatan tidak ada data yang punya data itu hanya pelayanan kesehatan. Sebenarnya permasalahan data bukan hanya dari terintegrasinya atau kemudahan dalam komunikasi data tetapi dalam hal ketersediaan data, walau bagaimana pun fasilitas tersebut tersedia tetapi tidak ada data yang akan dikirim atau diolah jadi buat apa ada fasilitas??? Minimnya tenaga dan kondisi geografis daerah sangat berpengaruh dalam hal ketersediaan data ditambah lagi kepedulian tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan mengenai data sangat kurang, mereka hanya melakukan pelayanan saja, hal ini dapat kita lihat pada puskesmas, jika pada rumah sakit mungkin rekam medis masih sedikit teratur.

Kita berharap semoga SIKNAS benar mampu menyelesaikan masalah data yang tidak terintegrasi, kalau memang tujuan SIKNAS Online hanya untuk menyediakan jaringan penulis rasa akan berhasil, tetapi kemudian apakah data akan tersedia???? Selanjutnya akurat, selanjutnya tepat, selajutnya cepat, selanjutnya digunakan dalam pengambilan keputusan bukan berdasarkan “terawangan”, mungkinkah data dapat mengungkapkan fakta-fakta mengenai masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat, Sehingga intervensi yang dilakukan sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.

0 Responses to “SISTEM INFORMASI “Dengan Data Mengungkap Fakta””



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





Goresan Hati

Risalah Hati

Pengunjung Hati

  • 331,407 Pencinta

Jumlah Pencinta Saat Ini

Terjemahkan Dalam Bahasa Hati :

About Me Myspace Comments

Funny Myspace Comments

Pesan Hati

JAUHI NARKOBA!!!

Photobucket

HANYA MONYET YANG MEROKOK!!!

Funny Myspace Comments

HINDARI PERGAULAN BEBAS JIKA ANDA TIDAK INGIN DIKATAKAN BINATANG

Kisses Myspace Comments


%d blogger menyukai ini: