Kutai Timur Perlu Sistem Kesehatan Daerah

Dinkes_KutimDalam suatu diskusi WHO SEARO dikatakan bahwa desentralisasi yang pada saat ini berjalan dengan cepat dapat menjadi jalan yang penting untuk meningkatkan akses pada pelayanan kesehatan orang miskin melalui perbaikan perencanaan dan pemberian pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan lokal. (WHO SEARO, 2000).

Perbaikan perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan lokal secara konseptual sudah difahami, namun bentuk perbaikan tersebut tidaklah begitu mudah bagi pelaksana di lapangan. Bagaimana pelaksana perencana dapat melaksanakan tugasnya bila bentuk dan pedoman penyelenggaraan pembangunan di Daerah yang harus diurus daerah tersebut, yaitu Sistem Kesehatan Provinsi dan Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota, masih belum jelas dan belum disepakati.

Seperti dilansir Kaltim Post, Minggu (8/2/2009), Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur menggelar workshop sehari guna merumuskan peran pemerintah daerah mengenai sistem kesehatan, belum lama ini. Pembicara dr Dwi Handono Sulistyo, Mkes dari Universitas Gajah Mada (UGM) pada kesempatan itu, menyampaikan pentingnya sistem kesehatan diterapkan di Kutim. “Kita harus menyadari, bahwa derajat kesehatan masyarakat bangsa tak akan bisa meningkat jika  tidak dibarengi meningkatnya sistem kesehatan itu sendiri,” katanya.

Disebutkan bahwa tantangan kabupaten pemekaran seperti Kutai Timur mutlak memerlukan sistem kesehatan yang baik. Terutama untuk  mewujudkan Kutim Sehat 2010. Wilayahnya terbilang laus, jumlah penduduk banyak bermukim di pelosok, ditambah sumber daya kesehatan masih sangat terbatas, transportasi sulit, merupakan permasalahan yang masih dihadapi. Kendati memiliki pendapatan asli daerah (PAD) yang relatif cenderung terus meningkat, namun berbagai persoalan itu tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

“Dari kondisi daerah tersebut, perlu ada konsep pemikiran bagaimana peran pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sistem Kesehatan Daerah dijabarkan dalam Peraturan Daerah atau Peraturan Bupati. Dokumen SKD juga sebagai acuan dan pedoman bagi pemerintah atau lintas organisasi perangkat daerah. Berikut pedoman bagi pihak swasta dan masyarakat dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang menyeluruh,” papar Dwi Handoko.

SKD dengan good governance (pemerintahan yang bersih dan berwibawa) memiliki peran penting dalam memajukan bidang kesehatan di tengah masyarakat. Pemerintah daerah sebagai regulator, pemberi dana dan pelaksana. Implikasi kebijakan desentralisasi yang paling bermakna dalam sistem kesehatan wilayah direposisi Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten. Hal ini berpijak pada Peraturan Pemerintah (PP) nomor 38/2007 tentang  pemberian dampak besar dalam hubungan pusat dan provinsi serta Kabupaten, sebagian besar urusan pemerintah pusat dipindahkan ke daerah.

Untuk itu, perlu pemahaman baik mengenai sistem kesehatan agar PP dapat terlaksana dengan baik. Sistem kesehatan adalah semua kegiatan yang bertujuan utamanya untuk meningkatkan, mengembalikan dan memelihara kesehatan yang mencakup promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. “Berikutnya, kegiatan yang memperkuat kesehatan seperti keselamatan di jalan raya, lingkungan hidup, pendidikan khusus kesehatan, harus ditingkatkan,” tambahnya.

Demikian pernyataan beliau yang dimuat dalam website harian terbesar di Kalimanta Timur, mungkin ada sedikit kendala dalam hal penyusunan SKD di Kutai Timur, penulis sendiri tidak sempat ikut dalam penyusunan karena melanjutkan pendidikan. Penulis hanya mengikuti tahap awal saja yaitu ketika melakukan sosialisasi dan pembangunan komitmen.  Dalam tahapan selanjutnya mungkin Pak Dwi Handoko mengalami kendala, khususnya mengenai koordinasi saat melaksanakan berbagai workshop, karena yang hadir mungkin pihak-pihak yang kurang berkompeten dalam pengambilan kebijakan di berbagai sektor. Hal ini menurut penulis disebabkan karena kurangnya kesadaran para pengambil kebijakan di Kabupaten tentang pentingnya Sistem Kesehatan.

About these ads

12 Responses to “Kutai Timur Perlu Sistem Kesehatan Daerah”


  1. 1 Anggun Wida Prawira 15 Februari 2009 pukul 5:35 pm

    Sejauh saya menganalisa keadaan tentang minim nya sistem kesehatan di Kutim, hal ini tentu berdampak pada rendahnya derajat kesehatan penduduk setempat. Hal itu betul, terlebih bagi penduduk yang bermukim dipelosok.
    Dapat dicontohkan di area Trans Kec. Kaliorang – Bengalon, masih terdapat Desa yang tidak mempunyai fasilitas pelayanan medis.
    Disebabkan karena:
    1. Akses transportasi yang rusak
    2. Sumber daya kesehatan masih sangat terbatas
    Kedepan diharapkan tiap Desa bisa mendapatkan fasilitas pelayanan medis yang tentunya Kutin sehat 2010 bisa tercapai.
    Salah satu solusinya bisa dijadikan bahan pertimbangan bahwa meskipun nantinya sudah dibangun, disediakan sarana YanKes (sebagai contoh BP=Balai Pengobatan) dimasing-masing Desa, hal ini harus ditopang pula dengan SDM Petugas yang berkompeten, Seperti Tenaga Dokter, Perawat, Bidan.
    Bisa dijadikan acuan bahwa Anak daerah Kab. Kutim yang sedang ataupun telah menyelesaikan pendidikan nya di Perguruan Tinggi khususnya diBidang kesehatan, dapat lah direkrut sebagai baktinya kepada daerahnya sendiri.
    Dan misal kebutuhan tenaga YanKes tetap tinggi seiring luas Kutim yang hingga menembus ke pedalaman, dapat lah pemerintah setempat tuk berfikir berburu Tenaga Yankes dari luar Kutim sendiri. Toh banyak PT baik Negeri/Swasta di Jawa yang meluluskan lebih dari 5000 Tenaga medis siap pakai di setiap tahunnya.

  2. 2 Andi Herman 15 Februari 2009 pukul 7:03 pm

    Saya sangat setuju dengan anda…
    Akses Transportasi memang menjadi masalah di daerah, bukan hanya Kutim tetapi hampir semua daerah di Kalimantan Timur, khususnya jalan Negara.
    Besarnya Dana dalam melakukan perbaikan jalan serta banyaknya jalan yang harus diperbaiki menjadi masalah dalam menentukan prioritas.

    Sumber daya kesehatan di Kutim memang sangat terbatas apalagi tenaga yang langsung melakukan pelayanan terhadap masyarakat. Dinkes Kutim telah mendapat bantuan tenaga PTT dari Pusat itu pun jumlahnya sangat terbatas, karena seperti kita ketahui bahwa sedikit sekali tenaga kesehatan yang mau ditempatkan di daerak pelosok atau sangat terpencil, kalau pun mau itu pun hanya sebentar saja, setelah itu mengajukan pengunduran diri atau alasan ikut suami apabila itu tenaga Bidan.

    Bila anda Putra Putri Kutim yang berpendidikan Bidan dan Perawat atau pun Dokter, silahkan saja mengajukan lamaran, tentunya dengan memperhatikan anggaran yang tersedia, tetapi harus bersedia ditempatkan sesuai kebutuhan di Wilayah Kutim, jangan setelah diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil langsung minta pindah.

    Mengenai sarana beberapa telah dibenahi, bila ada masukkan silahkan langsung mengusulkan melalui Musyawarah tingkat kecamatan yang biasanya dilaksanakan pada bulan Pebruari atau langsung ke Pimpinan Puskesmas di wilayah kecamatan, dan nanti diteruskan ke Dinkes dalam pertemuam Perencanaan Tingkat Puskesmas di Kabupaten. Partisipasi Warga sangat diperlukan dalam membangun Kutim lebih baik ke depan.

    Terima Kasih Telah Berkunjung….

  3. 3 adianto hermawandi 1 Maret 2009 pukul 12:20 am

    Ndi…..
    Beberapa hari ini saya buka blog-mu & baca segala sesuatu yang berkaitan dgn HATI.
    Persoalan mendasar yang berkaitan dengan Sistem Kesehatan Daerah terkait dengan permasalahan klasik, yaitu DANA & SDM. Coba deh…..andai aja Dinkes dapat 15% aja dari total APBD dan didukung oleh SDM mumpuni, yg punya pola pemikiran maju seperti elo & gue (maunya tuh….) perlahan SKD dapat berjalan.
    Sementara yg berkaitan dgn nakes yg emoh bertugas ditempat terpencil, dapat disiasati dgn pemberian insentif berdasarkan tempat tugas. Contoh Sengata 1 juta, Bengalon 1,5 juta, Kaliorang 2 juta, Sangkulirang 2,5 juta dan Sandaran 3 juta, wah…pasti banyak yg tertarik. Jangan seperti sekarang perbedaan nominal insentif antara tempat tugas cuman 200 rebu. Ya gak ( Ya Iya lah).

  4. 4 Andi Herman 1 Maret 2009 pukul 11:08 am

    Wach..wach… akhirnya ada juga org Kutim mo komen disini
    Teman Sejawat lagi…

    Dana 15% buat kesehatan sebenarnya merupakan masalah Nasional, karena hampir semua tenaga kesehatan daerah mengatakan minimnya dana buat kesehatan. Pendidikan mendapatkan 20% itu juga karena perjuangan mereka meloloskan RUU Pendidikan, sedangkan kesehatan dana 15% hanya dalam bentuk surat kesepakatan Bupati/Walikota se-Indonesia, tetapi pelaksanaannya berbeda karena yg membuat kesepakatan ada yang telah diganti.

    Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992 sampai sekarang masih dipakai, sedangkan RUU kesehatan sampai sekarang belum dibahas di tingkat legislatif, malahan RUU Rumah Sakit yang lebih dulu dibahas….
    Nasib.. Nasib…

    Mengenai SDM, sebenarnya kita perlu mengelola SDM lebih baik lagi, kalau tidak salah Kasi yang menangani ini telah diusulkan dalam SOTK sesuai dengan PP. 41 Selanjutnya mungkin perlu Master Plan pengelolaan SDM dalam mengatasi masalah ini. Mengenai “Insentif” perlu dicoba Pak… Tetapi saya lebih sepakat untuk mengambil bibit unggul daerah terpencil untuk didik menjadi tenaga bidan seperti yang selama ini dilakukan oleh beberapa Kabupaten Tetangga, kita bisa melihatnya sebagai Investasi, tentunya diikat dengan sebuah MoU. Sementara ini mungkin kita butuh kuantitas dulu pak, toh kualitasnya dapat kita lakukan dengan pelatihan, selama ini kan keyataannya berbeda.

    Ada penawaran lain seperti yang saya ingat waktu Prof. Gufron datang ke Kutim. Beliau mengatakan bahwa bisa bekerjasama dengan pihak ketiga dalam penyediaan tenaga, tenaga dari berbagai profesi di kontrak kemudian ditempatkan di daerah sangat terpencil, selanjutnya mereka menjalankan tugasnya untuk melakukan pelayanan kesehatan, dan UGM siap bekerjasama.

    Tetapi semua permasalahan di atas tidak terlepas dari dana, dan untuk mendapatkan dana tersebut butuh perjuangan keras dari teman-teman sekalian. Saya kira apabila kita dapat menyajikan data dengan lengkap dan akurat, kita dapat jadikan data tersebut sebagaibahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan. Selanjutnya untuk mendapatkan dan memperbaiki masalah data di Kutim yang masi menjadi masalah kita perlu suatu sistem yang dapat mengolah data yang lebih baik lagi, Saya kira kerjasama dengan UGM khususnya Minat yang sekarang ini saya masuki SIMKES dapat membantu, karena saya juga mempunyai keterbatasan dalam mengatasi permasalahan tersebut di Kabupaten dan di SIMKES banyak orang-orang pintar dengan latar belakang yang berbeda, hal ini telah mereka buktikan di Aceh dan beberapa daerah lainnya.

    Saya kira demikian Pak Anto…
    Mungkin nanti ketika saya pulang kita akan diskusikan lagi permasalahan ini, dan memikirkan langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengatasi berbagai masalah untuk dipecahkan bersama, karena memang Kutim memerlukan orang-orang yang peduli terhadap keberhasilan daerahnya khususnya di sektor kesehatan. Bukan mereka yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri yang hanya mengambil keuntungan dari Kutim tanpa menghasilkan apa-apa, setelah kenyang mereka selanjutnya mengatakan “good bye kutim” :( :(

  5. 5 Budhi 15 Maret 2009 pukul 9:36 am

    to andi

    Permasalahn yang ada di Dinas Kesehatan Kutai Timur saya rasa memang pelik, bayangkan dengan luasan wilayah kab. Kutai Timur yang kurang lebih seluas Propinsi Jawa Tengah harus senantiasa mengakomodir 18 Puskesmas yang letaknya sangat jauh, namun tidak sarana dan prasarana yang tersedia sangatlah minim, belum lagi dengan hambatan alam yang sangat menyulitkan baik dari Dinkes Kutim maupun dari Puskesmas yang ada untuk saling melakukan koordinasi , sehinngga kadang – kadang informasi tidak sampai dengan tepat waktu.

    saya rasa permasalahan yang ada dapat teratasi dengan penerapan “Sistem Informasi Tingkat Puskesmas ” yang nantinya diharaapkan dapat menjembatani komunikasi yang lebih akurat baik secara vertikal maupun Horisontal, diharapkan juga dengan simpus yang ada juga dapat menghilangkan jarak maupun kesenjangan yang terjadi selama ini terjadi

    mengenai sarana dan prasarana dipuskesmas memang sangat minim, seperti Puskesmas Batu Ampar, Busang, Long Mesangat, Kaubun, Karangan, Sandaran dsb, saya rasa mereka sangat membuutuhkan sebuah Ambulane untuk mobiliasi mereka dalam Merujuk Pasien, Perjalanan dinas mengambil Obat,Vaksin, MP-ASI dll, namun mimpi mereka harus tetap menjadi mimpi, alangkah bertolak belakang dengan para pejabat yang gonta ganti mobil dinas, sedangkann kalau Puskesmas yang mengusulkan dijawab dengan alasan ” Belum Ada Anggaran, Nanti Kami Usulkan Anggaran Tahun Depan ! ” setiap tahun berlalu jawaban itu yang mereka terima, sungguh ironis !, alat alat medis sudah dimakan usia namun belum juga ada pembaharuan,

  6. 6 Andi Herman 15 Maret 2009 pukul 3:23 pm

    Ini Budhi yang di Puskesmas Busang ya?!? Terima kasih telah berkunjung!!! Ini merupakan “suara hati” petugas Puskesmas yang harus diperhatikan :) Skedar Informasi bahwa jumlah Puskesmas sebanyak 19 bukan 18 dimana kecamatan yg puskesmasnya ada 2 adalah kec. Muara Wahau.

    Saya menyadari betul apa yg anda rasakan, usulan Ambulance memang telah lama diusulkan oleh Puskesmas Busang, Sbenarnya tahun 2008 telah dianggarkn tetapi karena waktu yang mepet, sehingga hal tersebut tidak terealisasi. Saya kira bukan belum ada anggaran, klo anggaran belum tentu tidak ada karena setiap tahun selalu ada anggran, mungkin yang lebih tepat “belum prioritas”, jadi ke depan harus benar2 dikaji masalah prioritas pembangunan kesehatan, tentunya dengan melibatkan semua pihak dalam penentuannya.

    Mengenai penerapan “Sistem Informasi Tingkat Puskesmas ”atau SIMPUS, saya rasa kita perlu kaji dulu berbagai aspek untuk pembenahannya, dan saya ucapkan terima kasih atas dukungannya. Memang inilah ke depan yang akan kita rencanakan, tetapi tidak serta merta dalam satu tahun langsung terwujud, karena ada berbagai faktor yang sangat mempengaruhi, khususnya masalah priorotas anggaran :). Mungkin kita perlu melakukan kajian dan selanjutnya membuat Master Plan tentang Sistem Informasi bersama pihak lain.

  7. 7 Budhi 16 Maret 2009 pukul 7:51 pm

    Trims, mas andi atas tangapanya

    semoga kedepanya Dinas Kesehatan menjadi lebih maju dengan orang-orang seperti mas andi didalamnnya yang sunguh peduli dan mencitai sebuah pekerjaan

    komentar kemarin sebetulnya belum selesai namun tanggapan yang ada dirasa sudah menjawab sebuah “suara hati” yang ada

    semoga harapan kita bersama “Kutai Timur Perlu Sistem Kesehatan Daerah” akan segera terwujud demi tercapainya suatu masyarakat yang sehat

    Tetap semangat dan maju terus, trims

  8. 8 Andi Herman 16 Maret 2009 pukul 10:03 pm

    Nanti kita diskusikan lagi ya!!! Saya rasa masih banyak masalah yang perlu kita diskusikan bersama guna mencari jalan keluar…

    Saya rasa semua orang di Dinas Kesehatan Peduli dan Mencintai Pekerjaanya, hanya saja kadarnya yang berbeda2.

    Saya juga berharap ke depan kita dapat mewujudkannya, tentu dengan dukungan semua pihak. Tetap Semangat juga ya!!!! Trim’s kembali…

  9. 9 2345 23 Maret 2009 pukul 6:24 pm

    Ga ada komentar,yg ada hanya dedikasi !!!

    Trim’s to mba anggun yg mo ngangkat kaliorang…
    ak cm berkhayal swatu hari nanti laporan antara PKM ma Dinkes cukup lewt sarana gini2an aja, ga perlu ada SPPD !!!!!!!!!
    trus tuk org2 dinkes kalo bisa gunakan media maya tuk belajar…
    jangan studi bandiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing truuuuuuuuuuuuuussssss !!!

  10. 10 2345 23 Maret 2009 pukul 6:26 pm

    Man…
    Simpus masih ibarat Mimpi, msh banyak yang perlu dibenahi..
    cukup yang manual aj dl dipermantap !!!

  11. 11 Andi Herman 23 Maret 2009 pukul 11:10 pm

    “2345” saya tau anda orang Puskesmnas yang tidak jelas…Harusnya anda berani menampakkan diri dan menulis nama anda seperti Saudara Budhi dari Puskesmas Busang, dia saya rasa lebih mendapatkan apresiasi yang cukup baik. Tapi saya tau siapa anda atau nickname anda m2t_ady yg sekarang berada di Samarinda :). Pernyataan anda akan coba saya jawab.

    Study Banding memang diperlukan, tetapi Volume dan tujuannya serta Follow Up yg dihasilkan harus lebih diperhatikan lagi. “Simpus Ibarat Mimpi” saya kira ini juga yang pertama kali dikatakan orang2 di Ngawi dan beberapa Kabupaten yang Simpusnya telah berhasil, mereka yang ingin mengembangkan Simpus bahkan dikatakan “Orang Gila”, tetapi kita dapat melihat orang gila tersebut sekarang telah menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Memang sebuah teknologi awalnya mengalami penolakan karena mereka belum merasakan manfaatnya. Saya yakin mimpi ini akan jadi kenyataan, dan Simpus bukanlah Mimpi tapi Solusi. Ada dalam tahapan dalam peralihan teknologi, kita tidak serta merta harus langsung beralih ke teknologi tetapi kita akan melakukan suatu kajian. Tunggu saya kembali kita akan berdiskusi lebih lanjut tentang masalah ini. Kalau anda mau menampakkan diri!!! :) :)

  12. 12 Tirawati 10 Mei 2012 pukul 11:17 am

    saya setuju dengan saudara budhi, kesehatan dikutai timur perlu ditingkatkan dan terutama alat-alat medis, dan obat-obatannya selalu dikontrol khususnya PUSBAN-PUSBAN yang ada, seperti yang kami lihat PUSBAN disekitaran daerah desa sekerat kecamatan bengalon PUSBANnya belum difungsikan padahal masyarakat setempat perlu tenaga kesehatan dan pengobatan yang memadai. dan jika anda membutuhkan tenaga kesehatan bidan anda dapat menghubung kami di no ini 081343525515, 085248202978, insya allah kami akan siap menjadi tenaga kesehatan didaerah tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





Kicauan Hati

  • RT @WOWFAKTA: Rata2 pelajar sekolah tinggi sekarang mempunyai tingkat kecemasan yg sama seperti rata2 pasien psikiatri di tahun 1950-an. [p… 2 days ago

Goresan Hati

Risalah Hati

Pengunjung Hati

  • 219,145 Pencinta

Jumlah Pencinta Saat Ini

Terjemahkan Dalam Bahasa Hati :

About Me Myspace Comments

Funny Myspace Comments

Pesan Hati

JAUHI NARKOBA!!!

Photobucket

HANYA MONYET YANG MEROKOK!!!

Funny Myspace Comments

HINDARI PERGAULAN BEBAS JIKA ANDA TIDAK INGIN DIKATAKAN BINATANG

Kisses Myspace Comments


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.777 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: